Sebuah surat terbuka,
Untuk calon suami.
Untuk sebuah nama yang belum ter eja.
Untuk sebuah wajah yang belum tersketsa.
Sengaja ku tulis ini, agar saat kamu menjadi suami ku nanti, kau akan tersenyum ceria bahwa aku sudah memikirkan mu jauh jauh hari.
Suatu hari nanti, aku akan menunjukkan tulisan ini pada mu.
Suatu hari ketika kita sudah menjadi.
Entah bagaimana rasanya menjadi seorang istri.
Sudah lama ku impi.
Melayani mu dengan sepenuh hati.
Disini, aku mulai berusaha memperbaiki diri. Agar aku dapat menjadi istri yang pantas disisi mu nanti. Menjadi pakaian kebanggaan mu. Menjadi penyejuk saat panas mu. Menjadi penghangat dikala dingin mu.
Kuharap, kau disana. Mempersiapkan diri menuntun ku mengeja nama Tuhan. Membawa ku ke alam yang hakiki. Memberi ku rasa dicintai.
Aku baru tercatat 19 tahun.
Tapi aku sudah memikirkan mu.
Disini, belum banyak yang aku dapat.
Belum terlalu lihai memasak,
Tapi aku mulai belajar dari ibu.
Masih sedikit ilmu yang kudapat,
Tapi aku selalu berguru.
Sudah tertulis dalam Lauh Mahfudz,
Ditulis oleh-Nya.
Kapan kita bertemu,
Bagaimana caranya,
Serta kenapa dan segalanya.
Aku,
Aku adalah cerminan mu.
akan ku perbaiki ilmu dan akhlaq yang kumiliki.
Aku adalah cerminan mu.
Akan ku jaga hati dan segala yang kumiliki.
Disini,
Untuk sebuah nama yang belum ter eja.
Untuk sebuah wajah yang belum tersketsa.
Gunung putri
December 19 2014
09 : 46 PM
Ya Rabb,
BalasHapusSekarang aku sudah pinter masak nih,
Dan terus berproses memperbaiki diri,
Cepetin ya ya Allah..
hehehe