Suara khas hewan sawah menderik kencang seiring bertambah panasnya terik matahari.
Hamparan sawah yang mulai menguning.
Terlihat seorang laki laki ditengah tengahnya melindungi diri dengan topi anyam.
Nampak dari kejauhan seorang wanita dan anak laki laki menapaki jalan menuju saung.
"Bapak. Pak" teriak anak laki laki sembari melambaikan tangan.
"Oi bahri,, bapak kesana"
"Sini pak, bersihkan dulu dari lumpur" jawab wanita itu.
"Waah bu. Sepertinya kita makan enak ini, aromanya sudah bapak cium dari ibu jalan kesini tadi.."
"Bapak lebay akh..."jawab anak sembari ketawa.
"Looh bapak mu ini ndak lebay nak, memang begitu kenyataannya. Ya toh bu ?"
"Hemm iya saja. Sudah sudah, sini piring bapak" sembari menuangkan nasi.
Sayur asam, ikan asin, sambal terasi serta lalap adalah makanan sederhana yang menjadi mewah. Ditambah semilir angin menambah kenikmatan nasi yang mengepul panas.
"Bahri, coba kamu tangkap beberapa ikan dibalong sana. Buat makan kita nanti malam"
"Oke capcus. Dibakar ya pak" segera berlari.
Tinggalah petani dan istrinya. Duduk menghadap sawah sembari mengipas ngipas badan dengan topi.
"Bu.."
" apa pak..." sambil membersihkan makanan.
"Ibu bahagia ?"
"Maksud bapak?"
"Iya, apakah ibu bahagia"
"Pak,," terdiam lalu duduk disampingnya.
"Ibu tak perlu mengucap apakah ibu bahagia. Menuangkan nasi dengan centong ke piring bapak sudah membuat ibu bahagia. Bahwa ibu bisa menjadi ibu dan istri yang baik. Ini tidak sebanding dengan keringat yang keluar dari perjuangan bapak"
"Bu... betapa beruntungnya laki laki yang menjadi suami mu. Eeekh bapak kan suami ibu ya..hahaha"tertawa kecil
"Pak pak,," menggelengkan kepala dan tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar