Minggu, 15 Maret 2015

Impas

"Haah..." hela lembut Namira dikamar yang kini hanya tinggal ia seorang diri.
Perlahan merebahkan badan pada kasur. Tangannya menyelinap kebantal, menemukan sebuah buku yang belum pernah ia lihat. Buku berwarna ungu bertuliskan nama Dhilla, teman sekamar yang baru saja pergi ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Entah disengaja atau tidak buku ini ditinggalkan untuk menjawab semua pertanyaan Namira tentang kepergiannya.
Perlahan, gadis bermata bulat itu membuka buku. Isinya sebagai berikut,

"Diantara semua yang mereka kenalkan, aku hanya teringat satu. Satu nama pemilik wajah sendu. Satu nama pemilik alis yang menyebalkan itu. Ego ini hancur, aku kalah. Aku tak suka menjadi kalah karena tidak pernah kalah sebelumnya. Dan aku membenci ini. Tapi harus diakui, makin hari kekalahan ini makin menjadi. Dia terlihat muram bagiku, bak mendung mengiring dikepalanya. Sedangkan aku begitu panas dan terik, berbeda sekali bukan. Tapi yang lucu adalah ketika semakin aku mengenalnya, terasa hangat didalam sana. Sekali lagi aku kalah, dari sini aku belajar memahami. Kenapa waktu terasa cepat berlalu. Dari sini ia pun banyak mengerti, bagaimana aku dan kehidupan ku begitupun sebaliknya. Kini ia mulai bebas tertawa, menyuarakan apa yang ada dalam hatinya. Yaa... aku tahu, dia pun kalah. Tatapan mata dan suara yang menyatakan kekalahan itu. Setelah semua, rasa canggung dan malu menjadi satu, bukan hanya aku terlebih dia. Dalam diam aku dan dia saling bicara. Dalam diam kami tahu maknanya. Kekonyolan yang sangat memalukan untuk ku, dapat menjadi penghibur baginya. Yaa.. tak apa. Aku sendiri menertawakan ke konyolan itu. 1 hal terjadi, yang tak pernah ku duga. Dia mengajak ku pergi. Aku ragu, kutanyakan kembali. Begitulah, kami pergi dan seketika semua lepas dan melebur jadi satu. Kami tahu makna tanpa harus mengatakannya.
Kini, dalam setiap doa setelah orang tua dan adik ku, kuselipkan orang lain, namanya. Ya namanya terselip rapi dengan untaian doa kebaikan. Tak ada yang aku pinta selain kebaikan, begitu tulus aku menerimanya.
Lalu kami semua berlibur ke sebuah pulau. Dia duduk tepat didepan kursiku. Tak bisa digambarkan bagaimana rasanya kala itu. Setelah semua ini akan ada banyak hal lagi yang tak terduga, seperti saat dia mengajaku pergi. Tiba-tiba aku tumbang. Saat mata kepala ku sendiri melihat dia bercengkrama bersama orang itu. Aku tahu bagaimana perasaan wanita itu, karena aku pun wanita. Dia mencoba menjauh saat melihat ku, tapi wanita itu tak tahu dan tetap disampingnya. Tapi, aku tak takut, karena wanita itu yang mau, bukan dia. Walau tumbang, aku berusaha meyakinkan diri. Oh ya... kau berulang tahun kan bulan depan nanti, kataku dalam hati. Aku mengumpulkan berbagai ranting, bunga dan daun untuk membuat ucapan itu. Satu persatu ku susun rapi sambil membayangkan apa yang harus kulakukan nanti. Selintas, kulihat dia masih bersamanya. Aku mulai kalut, tapi tetap pada tujuan ku. Tak apa dia bersamanya saat ini, karena aku tak ragu. Aku dan dia tahu maknanya dalam diam. Mata ini perlahan basah tanpa sadar. Ku usap perlahan sambil meneruskan apa yang kulakukan. Malam mulai meraba, bintang saling menunjukkan siapa yang paling terang. Tapi aku tak menikmati, bagiku langit tak pernah semuram itu. Untuk sesaat aku tertidur. Lelah setelah semua yang dirasa. Berharap esok akan lebih baik atau berharap hari ini hanya mimpi.
Aku tak yakin dengan apa yang kulihat, badanku bergemetar. Lutut terasa lemas, air mata tumpah, aku ingin segera pulang. Tak pernah rasanya sesesak itu. Aku mulai ragu, dalam doa kupasrahkan.
Kini, aku tak mengenal dia lagi. Secepat itu dia berubah. Tatapan mata dan suara, semua terasa asing bagiku. Perlahan aku mencoba mengenalinya kembali, rasanya begitu sesak, semakin aku mencoba mengenali lagi seakan akan aku menaiki langit. Semakin tinggi, semakin menyesakkan. Karena aku tahu bagaimana dia yang dulu. Tapi dia tak tahu satu hal, aku pandai membuat senyuman palsu. Tak jauh dari itu, aku tahu dia bersamanya kini. Tapi tak ada lagi air mata untuk ditangisi. Semua sudah habis. Tapi  rasanya tulus. Kulihat kau bahagia, maka aku merasa lega. Tergambar senyuman diwajahnya, impas.
Kini, aku tak perlu lagi membuat mu tertawa karena kekonyolanku. Sudah ada yang menggantikan, aku rasa dia lebih baik bukan. Impas. Aku rela melepasnya, aku yakin dirinya bisa membuat mu tertawa. Bahkan lebih baik dari ku. Tuhan sedang menguji ku bukan, menguji doa doa yang kupanjatkan dulu, bahwa aku tulus menerima mu. Kini aku tulus melepasmu. Tak ada rasa marah atau apapun itu, rasanya sama seperti pertama kali kita bertemu. Ya.. tidak akan ada yang berubah dari diri ku. Benar-benar tidak ada yang berubah. Ketika kau datang pada ku, aku akan tetap tersenyum seperti dulu. Tetap dengan kekonyolan ku. Aku lega kau begitu, tetap tersenyum saat melihat ku. Aku akan membawa semuanya, dan kau tak bisa meminta yang kubawa untuk kembali. Karena yang kubawa adalah kenangan. Yaa..  aku juga akan tetap membenci alismu yang menyebalkan itu. Impas. Aku merelakan mu, rasanya sama seperti pertama kali kita bertemu."

Sebuah foto bersama saat dipulau, terselip diakhir kertas. Air mata Namira jatuh, ia tak menyangka apa yang dirasakan Dhilla selama ini. Begitu tulus dan dalam. Kini ia tahu jawaban dari semua pertanyaan, hanya satu.
"Ping"bunyi ponsel namira.
"Namira, jangan menangis" pesan singkat dari Dhilla seakan tahu apa yang dirasakan Namira saat ini.
"Dhilla... kita akan bertemu lagi bukan"ujar Namira sambil memeluk buku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar